Asap masih mengepul di beberapa sudut kota Tuzla. Peperangan dahsyat dua hari lalu memporakporandakan kota berpenduduk kedua terbesar di Bosnia Herzegovina itu. Badai salju akhir tahun yang senja kemarin melanda Tuzla, menghentikan peperangan dahsyat yang menumpahkan darah beberapa syuhada dari kubu milisi sipil Bosnia. Serdadu gabungan Serbia dan Kroasia mundur ke Miricina untuk mengkonsolidasikan diri dan menunggu bala bantuan dari Banjaluca. Sementara milisi muslim Tuzla telah menghubungi saudara mereka di Zivinice dan Kalesija.
Kalesija masih relatif aman dari invasi yang deras menggempur Tuzla dari arah barat laut. Kalesija yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang Slav, orang asli Balkan, sejak dua bulan lalu telah mengirim milisi mujahidnya yang dipimpin langsung oleh Syeikh Sajed Raszidic. Mereka bahu-membahu dengan Muslim Tuzla yang selain etnik Slav juga ada beberapa imigran Turki dan Albania.
°°°
“Assalamualaikum Warahmatullah...” Ramazen Tahovic menutup shalat sunnahnya lalu menyambut uluran tangan Nahda Fathian yang kemudian menyalami lalu mencium tangannya. Ramazen yang malam itu mengenakan pakaian terbaiknya yang serba putih, mengelus kepala Nahda yang berbalut mukena, mengucapkan sebuah doa kemudian diamini oleh wanita yang beberapa saat lalu resmi menjadi isterinya, pendamping hidup dan perjuangannya. Dalam kamar yang redup dan dingin, kedua insan itu bagai sepasang merpati, putih, penuh semangat hidup.
Dalam kecamuk perang, Syeikh Raszidic, ulama dan pemimpin mujahid yang kharismatik itu masih penuh perhatian pada Ramazen, binaannya yang juga sekaligus ahli dinamit dalam barisan milisinya. Dipinangkanlah oleh Syeikh Raszidic untuknya, Nahda Fathian, gadis kaya keturunan saudagar Turki yang sang ayah gugur dua pekan lalu oleh serangan Serbia-Kroasia. Siang tadi, dalam senarai gerimis, Ramazen mengucapkan akad di depan Nadjib Fathian, adik yang menjadi wali bagi Nahda. Upacara pernikahan yang biasa saja, hanya sebuah ikrar cinta dan kesungguhan dalam irama dentuman perang.
“Sepertinya Kakanda teramat lelah hari ini, istirahatlah..” sapa Nahda dengan pandangan yang menunduk. “Tidak Adinda.., hanya terasa sedikit nyeri pada retak tulang ini” jawab Ramazen sembari menunjukkan memar di pundak kirinya. Masih tampak canggung dalam diri mereka. Sebagai muslimah, Nahda juga turut berperan dalam pelayanan logistik para pejuang. Di medan tempur mereka beberapa kali saling bertemu, itupun hanya seperlunya saja.
“Kakanda.., beberapa waktu lalu adinda mengagumi seorang mujahid yang gagah berani, ia terjebak saat memasang ranjau di dekat kantor distrik di utara.[1]” Kenang Nahda sambil melirik suaminya. “lantas adakah sekarang Adinda menyesal karena menjadi istriku?” “sama sekali tidak, wahai Suamiku, aku tidak akan pernah melupakan kegesitannya berlari dalam hujan peluru yang menerjang dari belakangnya lalu sebuah reruntuhan bangunan menimpa pundak kirinya. Dan kini.., pahlawan itu bersamaku, ia adalah engkau” jawaban Nahda membuat mata Ramazen berkaca-kaca lalu menghadiahi isterinya sebuah pelukan, peluk yang pertama.
“Nahda Sayang.., kepantasan apakah yang bisa membawa diri ini ke hatimu..? aku hanyalah orang Slav yang miskin, tak ada apapun yang kumiliki dikampung halamanku Kalesija”[2]
“Jangan katakan itu Kakanda.., bukankah aqidah dien kita hanya melihat ketaqwaan sebagai yang utama. Aku melihat itu pada diri Kakanda dan kumohon jangan halangi aku untuk meraih ketaqwaan bersamamu...”
“Bersamaku Adinda hanya akan menuai sulit dan bahaya. Renungkan itu Adinda. Aku bersyukur bahwa Allah memilih engkau untuk bersamaku, kuharap engkau demikian juga kiranya”
“Sejak awal mula Kakanda telah menuai simpati. Dan itu melahirkan kekaguman. Sejujurnya.., Nadjib-lah yang memilih engkau untukku, sebuah kekaguman yang menjadi nyata.”
“Sebuah simpati yang tak sekadar kata-kata. Betapa kini aku makin kagum padamu, Adinda. Dalam kebesaran dirimu, terima kasih atas ketulusan yang kau beri..”
Lalu bagai merpati, keduanya larut dalam canda, saling merangkai jemari. Jiwa-jiwa muda bertaqwa nan penuh gelora bagai terbang diantara mega-mega. Perayaan cinta yang terpendam begitu lama, kini membuncah dalam ikatan ruhani yang suci dan penuh berkah. Akhirnya..
“Terima kasih Tuhan, telah kau satukan hati dan jiwa kami dalam satu untaian cinta yang suci. Beri kami rahmat dan kurniaMu. Jadikan ini semua sebagai pembangkit semangat juang kami untuk terus menegakkan agamaMu..” bisik Ramazen sembari memeluk pinggang Nahda
“Ya.. Rabbana.., terima kasih telah menghadirkan seorang yang bertaqwa untuk menjadi pembimbing hidupku. Lindungilah setiap langkah dan juangnya.., berikan hidayahMu pada kami untuk bersama-sama mencintaiMu..” kata Nahda menyandarkan kepala di dada suaminya.
“Ya Illahi Rabbi, izinkan kami tetap berada dalam barisan hamba yang berjuang di jalanMu, izinkan kami menjadi umat yang mendapat syafaat Muhammad kekasihMu, izinkan kami bersama-sama mereguk surgaMu..”
Salju putih bulan Desember mulai turun di Bosnia Herzegovina. Dalam hening sepi, temaram cahaya di kamar itu akhirnya padam. Dan merpati itu melanjutkan perjalanan imaji cintanya.
°°°
Hayya ‘alal jihad... hayya ‘alal jihad...
“Assalamualaikum... Ramazen...” terdengar seseorang memanggil dari luar rumah. Ramazen terhenyak bangun “waalaikumsalam siapakah itu..?” serunya, Nahda terbangun juga.
“Ramazen.. ini aku Gohja, Syeikh Sajed memanggil kita semua sekarang juga. Kafir Serbia mulai menggempur dari utara. Kutunggu kau di madrasah, Wassalamualaikum”
“Waalaikumsalam.., insyaAllah aku segera menyusul” dada Ramazen berdegup kencang. Kegundahan melanda dirinya. Dipandanginya Nahda yang tersenyum dalam kecantikan yang luar biasa, kecantikan yang dirasakannya bagai bidadari.
“Adinda... Syeikh Raszidic memanggil kakanda, Serbia-Kroasia menyerang dari utara.” Kata Ramazen pada isterinya dengan lirih. Sejenak kamar itu hening, Ramazen menunduk, Nahda sang penyejuk mata tersenyum dengan tatapan penuh kasih. Segera saja suara Ramazen memecah kebekuan.
“Kekasihku.., kakanda minta izin berangkat berjuang. Sejujurnya kakanda khawatir dan tak enak hati padamu, dimalam pertama kita ini kakanda harus meninggalkan Adinda. Namun kuharap tak ada keberatan di hatimu. Ini panggilan mulia, pantang kakanda mengabaikannya..”[3]
“Majulah Pangeranku. Tak ada sedikitpun kegalauan di hatiku. Inilah episode keindahan cinta yang telah lama aku angankan. Justeru aku gundah jika kakanda terlalu berat hati memikirkanku. Jangan khawatirkan aku, Kakanda.. insyaAllah perlindunganNya selalu bersama kita..” jawab Nahda sambil tersenyum menguatkan keyakinan suaminya.
Ramazen mengambil handuk lalu menuju kamar mandi yang dingin. Betapapun dinginnya ia harus mandi, mensucikan diri. Namun sayang, ia mendapati air di bak mandinya telah membeku. “Nahda.., air telah membeku, aku tak bisa mandi” ganti sekarang Ramazen menyandang tas dan perlengkapan perangnya.
“Tak mengapa Kakanda, berangkatlah.” Jawab Nahda sambil membawa selendang hijau ke arah Ramazen. “Kakanda.., udara sangat dingin, kenakan ini untuk menghangatkan lehermu. Semoga Allah selalu memberikan perlindunganNya pada kita semua.”
“Baiklah, doakan untuk kemenangan dien ini Adinda, jaga baik-baik dirimu dan ibunda, simpanlah ini” bisik Ramazen sambil mengalungkan tasbih ke leher isterinya “insyaAllah Kakanda” dan kedua orang itupun berpelukan. Dentum meriam dari arah utara mengakhiri adegan itu. Ramazen berlari, dan segera hilang ditengah gelap dini hari di malam dingin yang panjang itu.
°°°
Langit Tuzla kembali hitam oleh asap meriam dan puing-puing yang hangus dalam serangan hebat pagi ini. Tentara Bosnia dibantu para milisi berjuang bahu-membahu mempertahankan Tuzla yang dihantam dari arah utara. Bala bantuan yang datang dari Kalesija dan Zivinice yang telah dua hari datang benar-benar menambah kekuatan pasukan Muslim.
Allahu Akbar... Allahu Akbar... gema takbir terus berkumandang sejak usai subuh tadi. Mujahid Bosnia maju dengan gagah berani. Agak berbeda dengan serangan sebelumnya, kali ini pasukan Serbia menyerang tidak frontal seperti serangan-serangan sebelumnya. Serangan kali ini Serbia terkesan sedikit bergerilya, memakai strategi kumbang, menyerang sedikit lalu mundur teratur. Syeikh Sajed Raszidic berada ditengah-tengah pasukannya. Dia terus menggelorakan semangat tempur yang memang berkobar hebat. Isy kariman aumut syahidan. Hidup mulia atawa mati syahid.
Menjelang siang Serbia telah mundur cukup jauh dari Tuzla. Ini merisaukan hati Syeikh Raszidic yang khawatir kalau-kalau strategi mundur Serbia hanyalah jebakan untuk menarik pasukannya ke dalam kepungan pasukan yang lebih besar. Sedari tadi Syeikh hanya melihat sebagian kelompok Serbia yang hilir mudik tanpa terlihat pasukan induknya. Dan ternyata kerisauannya itu kemudian terbukti. Walau pasukannya tidak terjebak dalam kepungan, berita dari Nadjib Fathian melalui radionya membuatnya terpukul.
“MasyaAllah.., Gohja, kumpulkan pasukan.. kota diserang dari arah Barat”
Gohja memberi komando agar sebagian pasukan segera kembali ke kota. Dari kejauhan terdengar dentum meriam dan suara baku tembak dari arah kota. Hati Ramazen begidik, asap telah mengepul tebal, dan itu berasal dari kota.
“Nadjib memerlukan bantuan.., segera kita kesana, laa haula walaa quwwata illa billah” tubuh tua Syeikh Raszidic itu terus berlari sembari mencoba menghubungi Nadjib kembali.
“Nadjib.. Nadjib.. Allahu Akbar.. Nadjib.. bisa diterima Nadjib..” wajah Syeikh mulai panik dan tatkala dari radionya terdengar bunyi letupan yang dahsyat bibirnya mendesah “innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”
Pasukan yang berlari dengan langkah berat itu seketika berhenti karena Syeikh tiba-tiba menghentikan langkahnya. Di cuaca dingin yang menusuk tulang Syeikh berkata pelan, “Kita kehilangan Nadjib..” wajah-wajah letih yang ada menjadi memerah oleh kebencian, kecintaan, harga diri dan semangat jihad. Tak tertahan, Ramazen tiba-tiba berteriak “Allahu akbar...” lalu secepatnya berlari dengaan menyandang karabin dan beberapa granat lontar ke arah kota yang tinggal sekilometer ke depan. Gohja segera memberi perintah “Otman, Hamat, lindungi Ramazen.” Keduanya menjawab insyaAllah dan segera menyusul Ramazen yang telah dua puluh meter di depan. Pasukan pun kembali meneruskan jalan menuju kota yang makin dekat dan semakin jelas luluh lantak.
Tak sulit bagi Ramazen untuk menembus kota yang mulai ditinggalkan tentara Serbia. Dan kini ia menuju sebuah bangunan dimana isteri dan ibu mertuanya berada. Bangunan itu telah runtuh dan mengepulkan asap. Tanpa mengenal dingin dan letih, Ramazen terus berlari hingga akhirnya tersadar bahwa ia tak sedang bermimpi. Tak salah lagi, reruntuhan itulah tempat yang ia tinggalkan dini hari tadi. Bangunan tinggal puing itulah tempat sang belahan jiwa melepasnya berjuang dengan sebaris doa. Dan dibalik puing berasap itulah ia menemukan seraut wajah yang terkulai dengan senyum terkembang. Sesosok tubuh yang dingin dengan kucuran darah yang telah membeku, memegang untaian tasbih yang dikalungkan olehnya beberapa jam lalu. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..”
Ramazen memeluk erat jasad isterinya dalam busana putih yang terpejam, dingin dan menggoreskan senyum itu. Bagai merpati yang terluka. Peluk terakhir yang serasa tak ingin dilepaskan. Hamat dan Otman terdiam memandang adegan mengharukan itu.
“Nahda.., selamat jalan Adinda.., demi Allah tak akan kubiarkan kemunkaran mengotori tanah ini. Demi Allah tak akan selangkahpun aku bersurut dari jalan jihad ini, biarlah aku binasa atau Allah akan memberikan kemenangan bagi yang berjuang di jalan agamaNya[4]” kata Ramazen disela isak tangis dan derai airmata. Lalu selendang hijau yang melingkar dileher itu dicoba ditutupkan pada jasad Nahda. Tak cukup jua. Tatkala ditarik ke arah atas untuk kepala, maka terbukalah ujung kakinya. Jikalau ditarik kebawah untuk menutup kaki, maka terlihatlah jilbab putih berlumur darah[5]. “allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha..”
Ramazen memandang kedua rekannya. Hamat mencoba berkata “Ramazen.., sebaiknya kita bergabung dengan barisan Gohja, mereka mungkin bersiap melakukan penyerangan balik ba’da Zhuhur ini.” “Menunggu selepas Zhuhur? tidak .. bagiku terlalu lama, tidakkah kalian mencium wangi surga yang berhembus dari arah sana?[6]” Ramazen menjawab dengan tegas.
“Zhuhur tak lama lagi, Ramazen.., mari kita menemui Syeikh” ajak Otman.
“Biarlah aku maju. Kendati aku memiliki seribu nyawa dan satu persatu nyawa itu meninggalkan tubuhku, tak akan sekalipun aku kembali ke belakang[7]” jawab Ramazen lalu berlari ke arah Barat mengejar pasukan Serbia yang mulai mundur.
Langkah Ramazen memasuki hutan pinus dipinggiran barat Tuzla. Tak lama kelompok penyapu dari pasukan infantri Serbia berhasil dikejarnya. Sang ahli bahan peledak ini melontarkan granat tangan yang segera mencerai-beraikan regu kecil itu. Dari balik pohon Ramazen kembali melontarkan granat dan membinasakan beberapa musuh Allah. Tak ayal, hujan peluru segera menghambur ke arahnya, dan Ramazen menjawab dengan memuntahkan peluru dari moncong senapannya. Musuh-musuh bertumbangan. Ramazen maju semakin kedepan sambil terus melontarkan granatnya, hingga akhirnya dari sepucuk senapan dari balik cemara melontarkan peluru yang menembus dadanya, mengalirkan darah segar di baju putihnya. Mujahid itu roboh dengan bibir yang melantunkan kesaksian.
Angin sedikit kencang menghembus dari arah barat menuju Tuzla, seolah mengabarkan berita duka dan gembira. Seorang pahlawan akhirnya gugur, tetapi ia meraih cita-cita syuhada. Salju putih turun menerpa lembut jasad putih yang terbaring, seakan para malaikat tengah mensucikan tubuhnya.[8]
Sedih dihati, dukanya kalbu, saat ku mendengar kabar Bosnia
Mungkin hanya doa, yang dapat terucap,
Maafkanlah kami yang tlah melalaikan.., maafkan..,
Ya Allah Yang Maha Pengasih, lindungi mereka
Ya Allah Yang Maha Pemurah, tabahkan mereka
Ya Allah hapuskanlah duka, dari wajah muslim Bosnia
Ya Allah, Ya Illahi.., dengarkanlah kami [9]
°°°
Sesosok jiwa yang tengah termenung memandangi keajaiban yang terhampar di depannya. Keajaiban, keindahan, bahkan terlampau menakjubkan, gambaran yang tak pernah dijumpainya selama ini. Ramazen berdiri menatap keindahan itu. Dalam busana serba putih dan pancaran wajah yang teramat bersih. Tiada rasa sakit dirasakan lagi, tak juga butiran peluru tajam yang merobek dadanya. Tiada kekhawatiran dan kegundahan yang mencekam hati, tidak juga nestapa melihat belahan jiwa yang menjemput syahid di depan mata.
Ramazen takjub dalam keheranan, bibirnya tiada henti melafadzkan tahmid. Ia sadar bahwa dirinya tidak sedang berada di tengah jalan bersalju dalam baku tembak siang tadi. Kini ia berada di tempat yang tak terbayangkan, tak tergambarkan dan tak terangankan sebelumnya. Tak henti bibirnya mengumandangkan Asma-Nya. Karena ArRahman, ya ArRahim-lah ia kini berada di tempat yang sangat indah ini, bukan karena kekhusyukan shalat, bukan karena keikhlasan jihadnya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.., Kakanda..” suara merdu tiba-tiba menghentikan keterpanaan itu. Ramazen membalikkan tubuhnya sembari menjawab “Nahda.. Waalaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh” ketakjubannya memuncak dalam rona teramat bahagia. “Adakah dirimu itu, wahai Adinda..?” tanya Ramazen menatap Nahda yang kini secantik bidadari. “Benar Ramazen. Ahlan wa sahlan, adinda telah berada di sini sejak pagi tadi dan kulihat Kakanda datang menyusulku siang ini..” jawab Nahda dengan senyum yang lebih manis dari yang pernah dilihatnya.
Ramazen makin saja tenggelam dalam keheranan dan kesyukuran. Hingga tangan lembut bidadari itu menggamitnya “marilah Kakanda, mari kita lihat-lihat tempat yang dikaruniakan Allah untuk kita” ajak Nahda sembari mengepakkan sayap putih, terbang bagai merpati. “Akan kemanakah dirimu Nahda..?” tanya Ramazen. “Ayolah...”
“Tidak.., tempat ini terlalu bagus untukku”
“Lantas apakah yang kau kehendaki lagi, Kakanda?”
“Tidak ada.., sedangkan karunia Allah ini terlampau besar dan agung bagiku”
“Tetapi ini adalah karunia Allah untukmu.., akan kemana lagikah, Kakanda? ”
“Ya aku teramat bersyukur, tetapi izinkan aku kembali ke Tuzla, akan terus kukejar dan kuperangi musuh Allah dan biarlah peluru-peluru mereka mengoyak dadaku. Biarlah ku kembali berjuang di jalanNya, lalu terbunuh demi menegakkan dienNya, berjuang dan terbunuh lagi.” [10]
“Tidak mungkin Ramazen.., sekarang disinilah tempat kita, kemarilah... tetaplah bersamaku”
dan kedua sosok itu berkelana menjelajah taman-taman indah di sebuah tempat yang tiada seorang manusia dunia pernah mengetahuinya. Taman-taman yang penuh rahmat, dan mereka damai bagai merpati.
Semarang-Solo-Temanggung, Desember 2005
[1] Diilhami dari dialog malam pertama Fatimah AzZahra dengan Ali bin Abi Thalib
[2] Diilhami dari kata batin Lantip, tokoh jelata dalam novel “Para Priyayi” karya Umar Kayam
[3] Diilhami dari dialog Hanzhalah dengan isterinya di malam menjelang Perang Uhud
[4] Diilhami dari jawaban Rasulullah pada pamannya ketika beliau diminta meninggalkan dakwah
[5] Diilhami dari adegan pengkafanan Mushab bin Umair di perang Uhud
[6] Diilhami dari kata-kata Abu Ayyub al Anshari tatkala merintis jalan menuju Konstantinopel
[7] Diilhami dari jawaban Saad bin abi Waqqash saat ibunya meminta kembali ke agama jahiliyah
[8] Diilhami dari kisah Hanzhalah yang jasadnya dimandikan malaikat setelah gugur di Uhud
[9] Lirik lagu Air Mata Bosnia - SNADA
[10] Diilhami dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, juga terdapat dalam Shahih Sunan atTarmidzi, hadits ini merupakan bagian dari tafsir alBaqarah : 154 sebagaimana ditulis oleh asySyahid Sayyid Quthb dalam Fii Zhilalil Quran jilid 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar