Sungguh saya sangat terkesan dengan nilai nilai ukhuwah yang diterapkan di Pbun. Bagaimana seriusnya masyaikh disana menjaga aura ukhuwah agar tetap memancar dengan sempurna. Bagaimana para ‘adho yang saling menjaga rasa rasa ukhuwah itu. Ah terasa indah nian persaudaraan di sana. Sampai sampai serasa seandainya ada ikhwah yang sedang sakit perut, kabar itu sudah beredar luas di jagad per-sms-an. Indah sekaligus menenangkan.
Namun entah mengapa. Rasa itu terasa hilang dan hambar. Ketika saya sakit, terkena malaria. Bukan saya saja yang sakit, tapi menyusul kemudian istri juga tertular malaria. Lebih menyakitkan anak pertama kami, fathiyyah juga ikut kena imbas. Akhirnya kami pun terkena malaria secara berjamaah. Waktu semakin berjalan, hari berganti hari. Ah ....mereka para ikhwah tak satupun muncul batang hidungnya sekedar untuk menengok saya yang sedang sakit malaria.
Muncul prasangka buruk saya kepada mereka. Kenapa pula tiada yang nongol ke rumah kami. Menjenguk kami. Yang sedang sakit malaria secara berjamaah.
“Mi, kok gak ada ya yang jenguk kita,?” tanya saya sedikit kecewa kepada istri.
“Mungkin pada sibuk mas,” jawab istri berbaik sangka.
Di dalam kesusahan kami yang sedang sakit malaria, berharap para ikhwah itu muncul. Bukan apa apa. Bukan pula ingin dimanja, hanya saja kehadiran mereka akan menyemangati kami. Wajah wajah bersih mereka seakan menghibur kami. Tapi nyatanya, mereka yang kami tunggu tak muncul.
“Ma, aku kena malaria lho ma,”.. telponku kepada ema di brebes sana.
“Ya allah, kok bisa,” jawab ma sesenggukan. Terdengar suara parau karena sedih dan menangis di ujung telepon sana.
“Ya wis sing sabar yo,” lanjut ema menguatkan....
Istriku pun menyusul. Menelepon keluarga di Medan. Memberi kabar bahwa kami, bertiga sedang sakit malaria. Ternyata hasil nya sama saja. Mereka di Medan sana menangis. Sedih karena kami kena malaria.
Ekspresi kesedihan keluarga besar kami memuncak dan muncul, karena dalam benak dan pikiran mereka ketika mendengar malaria hasilnya/ ujung ujung nya ialah parah. Bahkan bisa menyebabkan kematian. Itulah prasangka mereka mendengar sakir malaria. Sakit yang menakutkan karena di Jawa dan Medan memang jarang ada. Tapi ternyata anggota keluarganya ada yang terkena malaria. Yaitu kami bertiga.
Dan keputusan kami, memberi kabar kepada keluarga di Brebes dan Medan adalah paling tidak kami dapat penguatan dari keluarga di sana terlebih ternyata sampai detik saat itu tak ada satupun ikhwah yang mengunjungi kami. Dalam hati saya berkata, kelak kalau sembuh saya akan protes. Protes atas ketidakhadiran mereka mengunjungi kami waktu sakit malaria. Satu keluarga.
Singkat cerita waktu dan kesempatan protes itu tiba. Ketika alhamdulilah kami sudah agak baikan. Dan malam rabu, dalam pertemuan rutin itu saya langsung protes ketika diberi kesempatan untuk bicara.
“Kenapa tidak ada yang jenguk kami waktu sakit, sungguh saya tidak butuh buah tangan itu tapi paling tidak kehadiran antum akan mengurangi rasa sakit itu,” kataku panjang lebar.
“Padahal ketika ini semua diberitahukan kepada keluarga kami, mereka semua menangis sedih. Ketakutan akan terjadi apa apa terhadap kami,” sambung saya penuh semangat.
Mendengar protes saya, sang murobbi itu tersenyum disambung tertawa kecil. Saudara saudara yang lain, yang hadir disitu juga sama. Tersenyum disambung tertawa kecil. Dalam hati saya bergumam, orang cerita sakit kok cuma pada ketawa ketiwi...
“afwan khi,..kata sang ustad menenangkan....
Bukan apa apa, kami semua memikirkan antum sekeluarga juga. Hanya saja, malaria itu kami anggap sakit biasa. Bahkan bukan sakit. Karena beli obat pahit itu ke apotik, tiga hari sembuh dengan sendiri. Macam kita kena pilek biasa,” jelas ustad dengan lembutnya....
“iya akh, lagian malaria kan disini sudah tradisi. Karena memang Pbun endemik malaria. Jadi malaria itu sakit biasa, bahkan bukan sakit pun karena saking seringnya orang orang disini sakit malaria. Dan mereka biasa aja tuh,” timpal saudara satunya...
Oalah....saya pun akhirnya sadar, setelah ada penjelasan penjelasan itu. Ya udah lah, kalau gitu kalo mau sakit biar dijenguk sama ikhwah jangan sakit malaria...gumamku menghibur.. (berharap kok sakit)......
Kisaran, 29 Mar. 11 jam 9.15 wib
==================================================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar