Suka atau tidak, setuju atau tidak, menurut saya Dahlan Iskan adalah orang yang berhati materialistis.
Bagi yang gak kenal Dahlan Iskan akan saya perkenalkan dulu siapa beliau sebenarnya. Berasal dari keluarga yang pas – pas an tidak menyurutkan semangat belajarnya. Kemampuan menulisnya luar biasa dan semakin terasah ketika bergabung dengan salah satu surat kabar nasional. Dan akhirnya, titik puncak karir menulisnya menghampiri Dahlan Iskan, ketika dipercaya “memegang” jawa post grup. Berkat tangan dinginnya, dari yang kembang kempis dengan oplah yang sedikit, Jawa Pos akhirnya menjadi surat kabar nasional dengan oplah dan jaringan yang meng-Indonesia.
Memang, ketika kita sukses dengan satu kegiatan, bisnis yang lainnya pun menghampiri dengan sendirinya. Itulah yang terjadi dan menimpa Dahlan Iskan. Bisnis dia mulai menggurita dan menyebar kemana mana setelah Jawa Pos sudah matang, terutama yang bergerak di bidang kelistrikan. Mungkin karena Pak SBY melihat prestasi Dahlan Iskan di bisnis listriknya itulah akhirnya tergoda dan menjadikan beliau sebagai Dirut PLN. Wallahu ‘alam.
Mengenai bahwa Dahlan Iskan berhati materilistis itu bukan sebab apa – apa lho. Materialistis disini disebabkan karena memang hati Dahlan Iskan telah berganti dengan hati orang lain. Dan itu semua telah beliau lakukan setelah dirawat sebulan penuh (kalau tidak salah) di RS China. Dalam buku karangan beliau (Ganti Hati) – ada episode yang menceritakan bahwa sekarang di perut Dahlan Iskan ada lambang mercy – goretan segitiga – akibat operasi ganti hati. Dan secara tersirat beliau bercerita bahwa itu melambangkan semua biaya operasi ganti hatinya Dahlan Iskan. Dan ditutup dengan gurauan beliau bahwa sekarang saya punya dua mobil mercy. Satu di garasi rumah, satu di perut saya.
Tapi, memang dasar Dahlan Iskan berhati materialistis. Biarpun dalam kondisi sakit dan menunggu di operasi beliau malah menyewa guru privat bahasa china/mandarin. Alhasil selama dirawat di China kemampuan mandarin Dahlan Iskan meningkat tajam lha wong diajari privat bahasa mandarin kok. Tak jarang selama dirawat juga masih ngecek graha pena di Surabaya lewat teleconference. Eh udah sakit masih berteleconference pula dengan Pak SBY waktu memperingati hari pers Indonesia.
Masih gak percaya bahwa beliau berhati materiaslis??? Bukti terakhir adalah setiap hari beliau menulis semua kejadian selama di rawat di China. Beliau kirim ke semua Koran yang berafiliasi dengan Jawa Pos. Bisa kebayang gak sih kalau tiap hari menulis, maka sebulan bisa jadi buku. Itulah si hati materialistis itu tadi, akhirnya tulisannya yang sudah terkumpul selama kurang lebih sebulan menjadi sebuah buku yang berjudul GANTI HATI.
Terus terang saya membaca buku Ganti Hati-nya Dahlan Iskan lebih dari sekali. Enak dibaca. Tulisannya singkat,lugas dan mudah dimengerti. Saya pun akhirnya sering menengok blog Dahlan Iskan (dahlaniskan.wordpress.com), membaca tulisan tulisannya. Suka sekali saya.
Semoga Dahlan Iskan yang berhati materialistis – karena hatinya sudah diganti dan itu butuh materi/uang yang tidak sedikit – diberi kesehatan, kekuatan dan ketajaman pemikiran agar PLN selalu maju dan tidak byar pet lagi…
Jadi, kalau dengar materialistis jangan pada parno ya…….
Hehehehe………..
Salam Kompasiana - Sairin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar