MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA -)(- MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA

Senin, 20 Juni 2011

“Menggugat” Dokter yang Jadi Bintang Iklan


Akhir akhir ini semakin banyak saja produk yang mengiklankan dirinya menggunakan bintang iklan seorang dokter. Sungguh itu melabrak kode etis profesi dokter (menurut saya), kalau memang yang bersangkutan benar benar seorang dokter. Kalaupun ternyata si dia bukan seorang dokter sungguhan, tetapi karena berpenampilan layaknya dokter (dengan jas putih dsb) maka bagi saya itu sudah kebohongan publik.

Yang namanya iklan tentu sudah tabiatnya meyakinkan konsumen akan keunggulan keunggulan produknya. Tetapi dengan menampilkan sosok dokter untuk semakin meyakinkan konsumen sungguh itu sangat mengganggu profesionalitas seorang dokter itu sendiri. Tentu dengan kehadirian sosok dokter dalam iklan tersebut, sedikit banyak masyarakat akan lebih “tergugah” untuk memakai produk yang diiklaninya. Dokter saja menggunakan, pasti mantap surantap lah produk ini (mungkin begitu perkiraan sebagaian masyarakat sebagai konsumen). Padahal kenyataanya belum tentu sesempurna apa yang disampaikan si bintang iklan itu, tapi karena melihat sosok dokternya sedikit banyak masyarakat akan tergoda untuk menggunakan produk tersebut.
Setelah saya gogling ternyata berdasarkan Permenkes no 1787/Menkes/PER/XII/2010 tenaga kesehatan dilarang mengiklan atau menjadi model iklan obat, alat kesehatan dan fasilitas kesehatan, kecuali iklan layanan masyarakat. Pertanyaan nya kenapa masih saja ada dokter/ pura pura berprofesi dokter yang mengiklan?? Apa karena sanksi nya kurang tegas atau gimana saya tidak tahu pasti. Yang jelas masyarakat memerlukan perlindungan dari informasi berupa iklan dan publikasi pelayanan kesehatan.
Sampai hari ini saya masih menjumpai produk dengan dokter yang jadi bintang iklannya (entah itu dokter sungguhan atau berpenampilan seperti dokter saja). Ada pasta gigi, susu bayi, sabun antiseptic, jamu (ayo ada yang mau nambahi? :-)). Saya tidak tahu siapa yang mesti bertanggung jawab mengatasi ini semua, yang jelas seharusnya disana ada kolaborasi antara IDI, KEMENKES dan KPI untuk membendung aliran dokter (dokter aseli/ dokter “jadi jadian”) yang membintangi sebuah produk demi perlindungan dari informasi berupa iklan dan publikasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas.
Ada frase yang kemudian menjadi pertanyaan kita bersama, bagaimana seandainya jika memang dia sudah artis eh dokter pula?? Kalau menurut saya sih harusnya dia pilih salah satu diantara dua profesi itu, bagaimana menurut Anda??
Eits tunggu dulu, ternyata artis yang dokter itu nantangin lho…. orang pintar minum *******
bisa juga baca artikel ini, disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar