Anda sudah punya sajadah ? bagus lah kalau suda punya. Seberapa intens perjumpaan Anda dengan sajadah itu? setahun sekali, sebulan sekali, seminggu sekali atau sehari sekali. Upsss jangan buru buru menjawabnya, alangkah baiknya baca surat cinta dulu dari sajadah berikut ini.
Dear, tuan yang sudah punya sajadah….
Semoga kesehatan selalu menyertaimu. Hari ini entah kenapa hati saya teramat sedih. Saya sudah satu rumah dengan Anda, bahkan saya sudah satu kamar dengan Anda. Tetapi kenapa dekatnya jarak kita malah menyekat persuaan kita. Seperti ada tembok tebal yang memisahkan kita, padahal kita sudah satu ruangan.
Tuan, anda sudah membeli saya dari pedagang itu. Dan saya ingat betul, sewaktu kau hendak membeli saya nampak wajah yang gembira. Wajah ceria yang memancarkan semangat itu seakan menghibur saya. Menghibur karena sudah terlalu lama di simpan sama penjual itu. Saya ingat sekali tuan, kau mengambil saya dari toko itu karena kau hendak menikahi istrimu sekarang. Buat mahar pernikahan, katamu kepada pedagang kala itu.
Tuan saya menangis pedih sekarang. Istrimu yang kau belikan hadiah berupa saya pun jarang memeluk ku dalam sujud dan ruku. Kau pun sama, Tuan. Pernikahanmu sudah berjalan puluhan tahun, tetapi selama itu kau jarang sekali bercengkrama dengan saya tuan. Tuan, dalam tangis ku ini ku hanya bisa berdoa kepada Pemilik kau dan Pemilik saya Yang Maha Abadi. Semoga kesehatan selalu menyertaimu dan kau segera bercengkrama dengan saya dalam sholat, sujud dan ruku mu. Sebelum semuanya terlambat tuan. Sebelum kau diambil sama Pemilikmu, layaknya kau mengambil saya dari toko itu.
Sholatlah Engkau Sebelum disholati
Tuan, saya sebenarnya sangat iri kepada tetangga tuan. Tetangga itu sama dengan tuan. Sudah memiliki sajadah seperti saya. Tetapi perlakuan dia sangat berbeda dengan kau memperlakukan saya, duhai tuan. Sekarang, malam ini, ditengah keheningan malam tetangga mu malah bangun dan menangis tersedu sedan diatas punggung sajadah itu. Tetesan air mata tetangga tuan seakan menghibur dan menentramkan sajadah teman saya disitu tuan. Sejuk. Damai.
Sementara, engkau mendengkur dalam hangatnya selimutmu. Kalau tetangga tuan menangis mengharu biru diatas sajadah dalam sujud dan ruku, sekarang, saat ini saya menangis sendiri dan menangisi tuan. Sungguh beda tuan.
Tuan, saya sudah bosan hanya menjadi pelengkap lemari mahal milik tuan. Saya ingin terhampar di lantai rumah tuan. Dan tuan sujud, ruku di atas punggung saya. Dan tuan menangis, menghiba mohon ampunan kepadaNya di atas punggung saya. Sungguh, tetesan air mata tuan yang membasahi punggung saya menjadi kenikmatan yang sangat luar biasa bagi saya.
Tuan, tuan…. kau mendengar teriakan ku kah tuan??? Sebelum semuanya terlambat tuan……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar