Ide tulisan ini muncul, gara gara rasa kecewa yang dalam sama ibu kontrakan. Semula, waktu pertama kali akad meng-iya-kan kontrakan disitu, sang ibu berjanji akan dibuatkan pagar teralis besi di pintu masuk. Bahaya buat anak anak kalau tidak ada pagar, karena dekat jalan aspal yang rame orang lalu lalang dengan kendaraannya.
Tapi sampai tiga bulan kemudian janji tinggallah janji. Saya pun akhirnya memaklumi mungkin perlu biaya besar untuk membuat itu. Sewaktu pertama kali masuk di rumah kontrakan itu, saya terkejut. Karena ternyata bak mandi yang model fiber bocor. Saya pun mengadukan kepada sang ibu tadi, dan lagi lagi dia berjanji minggu depan akan dibelikan yang baru. Tapi hasilnya masih sama, nihil. Selang waktu yang dijanjikan itu, istri pun mendatangi sang ibu dengan maksud sama. Minta bak mandi fiber yang bocor untuk diganti. Sang ibu pun berjanji besok ya habis jum’atan. Nyatanya ini sudah jumatan yang kedua tapi bak mandi itupun belum datang juga.
Usut punya usut ternyata dari bulan maret saya masuk sampai sekarang saya belum pernah bayar listrik. Karena takut bengkak dan kena denda, saya pun lagi lagi mengadu kepada sang ibu. Hanya meminta bukti pembayaran listrik yang terdahulu, biar bulan selanjutnya dari maret sampai sekarang kami yang bayar, karena memang kami yang memakainya. Tapi sekali lagi, saya yang cuma minta bukti pembayaran listrik yang terdahulu saja sudah dijanjikan berkali kali, hasilnya podo ae. Tidak ada.
Saya pun hanya bisa mengelus dada, dan saya sudah malas untuk berjumpa sama dia. Bukan apa apa, setiap kali kami menagih atas apa yang sudah dia janjikan yang ternyata tidak ditunaikan seakan tidak ada masalah dan fine fine aja. Kok masih ada pula orang kayak gini yah. Padahal waktu pembayaran dia super garang, awas kalian jangan molor bayar kontrakannya.
Atas kejadian itu, disatu sisi memberikan saya pembelajaran. Bahwa sekali kali janganlah mudah berjanji dan mudah pula diingkari. Karena janji itu hutang, dan hutang wajib disitu untuk ditunaikan.
Saya jadi teringat sejarah Nabi Muhammad SAW. Waktu itu ada seorang arab yang minta penjelasan dan penetapan hukum. Maka orang arab itu pun bertanya kepada Rasulallah, dan sama beliau dijawab seraya bersabda, “datanglah esok hari, niscaya akan ada jawabannya”
Sesuai dengan ‘perjanjian’ itu maka orang arab itupun datang kembali keesokan harinya ‘menagih’ janji itu. Ternyata Rasulallah belum bisa memberikan jawabannya, dan singkat cerita sampai tiga hari berturut turut Firman Langit tertahan tidak turun kepada Rasulallah. Beliau pun gundah, bingung. Kenapa Allah SWT tidak menurunkan firmanNya tentang pertanyaan orang arab itu, padahal Rasulallah sudah berjanji untuk segera menjawab pertanyaan orang arab itu. Dan seperti kebiasaan sebelumnya bahwa setiap pertanyaan yang muncul akan segera ada jawaban berupa Firman Allah itu tadi. Atas hal itulah, Rasulallah yakin bahwa pasti akan segera turun FirmanNya atas pertanyaan orang arab itu tadi. Saking yakinnya Rasulallah pun menjawab seraya bersabda, “datanglah esok hari, niscaya akan ada jawabannya”.
Alhamdulilah, setelah lumayan lama menunggu jawaban orang arab tadi, firman Allah pun turun kepada Rasulallah SAW. Tetapi firman yang turun itu bukannya tentang jawaban atas pertanyaan orang arab, melainkan ‘teguran’ kepada Rasulallah tentang sikap beliau yang yakin bahwa besok pasti akan ada jawabannya. Kurang lebih arti firman tersebut ialah hendaklah berkata insya allah - jika Allah menghendaki, jangan pasti pasti aja atas perjanjian yang kita lakukan.
Kesimpulannya, mulai lah kita belajar untuk selalu menepati janji yang sudah pernah keluar dari bibir kita. Dan jangan lupa serta kan selalu INSYA ALLAH - JIKA ALLAH MENGHENDAKI.
Tapi bro, insya allah jangan disalah artikan ya. Mentang mentang sudah bilang insya allah kita pun tidak berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi janji kita. Seakan akan insya allah dijadikan ‘legalitas’ bahwa kita tidak akan memenuhi janji kita.
Wallahu’alam bishowab…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar