MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA -)(- MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA

Jumat, 17 Juni 2011

Si Jujur Itu Pun Akhirnya Ranking Satu


Alifa Ahmad Maulana, si otak moncer itu menjadi buah bibir. Syukurlah, kali ini ketenarannya karena prestasi sekaligus prestise. Prestasi, karena memang dikaruniai oleh Sang Pencipta otak yang cerdas hingga akhirnya mengantarkan menjadi ranking pertama di sekolahannya. Prestise karena mengutamakan kejujuran sebagai sebuah karakter yang semakin hari semakin menghilang.

Membaca artikel berita di republika.co.id, yang menjelaskan bahwa akhirnya si alif ranking pertama di SDN Gadel 2 sungguh membuat bulu kuduk merinding. Merinding karena sebelumnya, seperti yang banyak diberitakan media bahwa dia dan keluarganya terusir hanya gara gara menyampaikan kebenaran tentang ada skenario contek masal disana. Dan semakin merinding karena hasil UN nya pun fantastis kalau tidak mau dibilang sempurna.
Ada dua kelebihan disana pada diri seorang Alif. Bahwa disamping dia pintar juga seorang yang benar/ jujur. Semua fakta terpampang dengan gamblang bahwa Alif anak yang cerdas, karena dari dialah sumber pertama “kunci jawaban” saat di gelar UN hingga akhirnya terbongkarlah skenario contek massal itu. Dan kejujuran si Alif pun semakin banyak memberikan hikmah dan keberkahan bagi dia dan keluarganya (pada khususnya).
Saya yakin, saat awal awal membongkar kasus contek massal itu menguras tenaga, pikiran dan emosi Alif sekeluarga. Tapi syukurlah, “beban” berat itu akhirnya terangkat dengan segera, dan membawa rasa plong didalam dada mereka semuanya. Biarpun kepahitan yang mereka rasakan di awalnya, tapi ibarat layar terkembang pantang surut diturunkan. Kejujuran bukanlah sebuah pilihan, tapi memang sudah seharusnyalah kita untuk selalu jujur. Memang terasa pahit dan menyakitkan, tapi yakinlah kemudahan dan kebahagiaan akan dipetik oleh si penanamnya.
Semoga kasus ini tidak bergeser dari masih adanya carut marut di dunia pendidikan ke personal Alif dan keluarga. Artinya, “drama pengusiran” Alif sekeluarga tidak yang diangkat angkat terus/ menjadi topik utama hingga mengesampingkan bahwa ada sesuatu di dunia pendidikan kita. Biarlah drama itu menjadi masa lalu, toh orang per orang (baca oknum guru dan kepsek) sudah diberikan hukuman disiplin yang setimpal.
Justeru yang mesti menjadi titik point adalah bahwa ternyata masih ada yang hilang di dunia pendidikan kita (salah satunya pembentukan karakter/jujur). Buat apa mendidik anak hingga akhirnya memiliki kemampuan kognitif yang sempurna, hanya mencari nilai raport dan UN semata, yang menghilangkan identitas sebuah bangsa ketimuran/ jujur.
Tapi syukurlah, Alif telah mempertontonkan kolabarasi yang sangat apik dan sempurna yakni sebuah prestasi sekaligus prestise. Selamat teruntuk Alif, semoga kepintaranmu dan kejujuranmu menjadi contoh bagi kita semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar