Menikah dini siapa takut?? Waktu menikah pada tanggal 20 Nopember 2005 usia saya baru 21 tahun. Sekarang usia pernikahan kami baru berjalan 5 tahun lebih, dan alhamdulilah baru dikarunia 2 orang anak yang lucu lucu. Apa karena saya dulu sekolah di STAN sehingga Setelah Tamat Akad Nikah, tidak tahu pasti saya.
Latar belakang kenapa saya ngebet menikah di usia yang masih belia, yang jelas salah satunya saya takut terjerumus dengan perangkap perangkap syetan. Waktu itu, setelah saya lulus dari SMKN 1 Brebes, saya mencoba ikut peruntungan mendaftar di STAN Bintaro. Yang mendaftar luar biasa banyaknya, dan saat ujian masuk STAN saking banyaknya dilaksanakan di Stadion Utama Bung Karno.
Singkat cerita, nama saya termasuk dari ratusan peserta yang dinyatakan lulus. Saya senang sekali waktu itu. Tetapi ketika melihat tempat pendidikan di Medan, tubuh saya langsung lemas. Seakan bingung di simpang jalan, antara mau ambil kelulusan itu atau tidak.
“ma, kalau begini ceritanya saya harus ke medan, saya pilih tidak ambil aja lah daftar ulang itu,” kata saya sepulang melihat pengumuman itu.
“oke, kalau itu mau mu. Tapi yang harus kamu ingat, kalau mau kamu kuliah di tempat yang lain jangan minta uang sama ema,” sergah ema dengan semangat.
Saya pun diam seribu bahasa, namun pikiran bergejolak. Terus terang saya waktu itu ingin sekali melanjutkan kuliah tapi jangan di STAN, karena jauh diterimanya di Medan, tetapi mendengar ancaman itu, kalau tidak ambil kelulusan di STAN Medan maka jangan harap dikasih biaya untuk kuliah di tempat lain. Dengan berat hati saya pun terpaksa melanjutkan pilihan. Konsekuensinya saya harus ke Medan. Sendirian. Tidak ada saudara kandung di Medan.
Hampir lima tahun saya berada di Medan. Dari tahun 2002 sampai awal 2006. Dari masa kuliah, CPNS, sampai PNS semuanya saya lewati sewaktu di Medan. Bisa dibayangkan bagaimana suasana hiruk pikuk kota terbesar ketiga di Indonesia. Semuanya ada di sana.
“ma, di Medan saya kalau mau nakal semuanya ada. Mau mabuk, mau main perempuan saya bisa ma. Apalagi saya sudah bergaji yang lumayan, dan ema tidak ada disamping saya.,” itulah penjelasan pertama saya kepada Emak waktu mengajukan SIM - Surat Ijin Menikah.
Alhamdulilah, Emak akhirnya mengijinkan saya menikah walau dengan berat hati. Kenapa berat hati, karena waktu saya menikah saya melangkahi 4 kakak saya. Kami 6 saudara, dan saya anak yang keenam. Waktu saya mengajukan SIM, kakak yang merupakan anak kedua sampai kelima semuanya belum menikah. Maka dengan saya menikah, saya menorehkan rekor satu kampung : satu satu anak yang menikah dengan melangkahi kakak terbanyak!!!!
Sekarang hati saya sangat tenang. Kemanapun ada istri di samping, dan disana ada hiburan berupa “mainan hidup” - anak anak yang lucu. Dan terus terang, setelah menikah tiada hari tanpa pacaran yang kami lewatkan. Dan pacaran kami pacaran yang diberkahi, insya allah, karena sudah resmi sebagai pasangan suami isteri.
Jadi kalau mau pacaran anda semakin nikmat tanpa takut digerebek satpol PP, menikah lah dulu. Baru pacaran.
Bagaimana kalau belum mau dan mampu untuk menikah??, kata Rasulallah SAW banyak banyaklah menjaga pandangan Anda dan berpuasalah……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar