MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA -)(- MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA

Rabu, 01 Juni 2011

Di Punggung Gunung Sinabung ku Mengenalmu lewat Secarik Kertas

Semakin susah mendapatkannya maka ketika sudah di genggaman semakin terasa indah dan nikmat. Inilah sepenggal kalimat untuk saling menguatkan antara saya dan calon isteri waktu itu.


Malam itu saya berkunjung ke rumah guru mengaji, menyampaikan maksud ingin menikah.
“Pak, saya ingin menikah” ujar ku mantap kepada sang guru
Sambil menganggukkan kepala tanda setuju, dia pun bertanya, “kira kira mau sama yang lebih tua atau lebih muda?”
“lebih tua pak,” sergahku

Itulah dialog malam saya dengan guru mengaji saya, dengan ditemani gelapnya malam karena waktu itu Medan lagi mati lampu. Sepulang dari rumah beliau, saya tidak bisa tidur di kost-an. Memikirkan apa yang akan terjadi kemudian.

Hampir tiga bulan, sang guru tidak memberitahukan kepada saya. Baik biodata, maupun proses ta’aruf/perkenalan. Hingga pada suatu ketika, saya dan teman teman diajak mendaki Gunung Sinabung sama sang guru. Beliau memang hobi mendaki, padahal badannya subur makmur.

Pendakian ke Gunung Sinabung pun dimulai dengan perjalanan melalui belakang punggung Sinabung. Kami tidak melewati jalan pendakian pada umumnya, tetapi membelakangi dan memutar. Melewati kampung penduduk yang asri dan banyak sekali kebun jeruk. Di kebun ini kami menikmati buah jeruk yang terjatuh. Saya pun heran mengapa penduduk tidak mau mengutip jeruk yang sudah jatuh walaupun baru satu detik. Pantang bagi mereka. Perjalanan pendakian kami dimulai jam 12 malam. Sengaja memang, biar ketika sampai puncak pas momen sunrising.

Baru mendaki setengah jalan sang guru minta berhenti. Bernapas. Dan dia mengalami kram. Disitulah kami tiduran beralaskan tanah. Dan disitu pula, sang guru rupanya sudah mempersiapkan satu lembar kertas berisi biodata calon istri saya.

“ini rin, biodata calon mu,” kata sang guru sambil mengulurkan tangannya.
Saya pun cuma bisa tersenyum. Campur aduk perasaan waktu itu. Capek. Senang. Bingung.

“supaya kamu selalu ingat sama istri mu,” lanjut sang guru memberi alasan kenapa mesti di punggung Sinabung dia memberi kertas biodata calon isteri saya. Dalam hati saya cuma bergumamam oalahh untuk dapat biodata calon istri saya saja harus dengan perjuangan mendaki gunung sinabung.

Perjuangan pun semakin berat ketika hari H pelaksanaan pernikahan semakin mendekat. Saya dan calon istri waktu itu sudah bersepakat untuk bisa sekuat tenaga melangsungkan pernikahan dengan nuansa islami. Mulai dari pentas hiburan sampai pemisahan tamu (antara tamu pria dan wanita). Saya bukanlah orang yang paham sekali tentang agama, tapi saat itu saya berprinsip untuk memulai lembaran hidup baru saya dengan pasangan dengan nuansa islami.

Keluarga besar istri langsung marah. Baik dari keluarga bapak maupun ibu mertua semua marah dan tidak setuju. Mereka semua langsung mencibir dan menghina kami. Bahkan mereka bersepakat akan memboikot untuk tidak hadir di pernikahan kami.

Atas kejadian ini, mama mertua langsung shock. Bahkan dia menangis tersedu sedan. Mama mertua langsung menjual “kebaikan kebaikan” isteri saya, tetapi tetap saja mereka pada pendiriannya. Saya terus berkoordinasi by phone dengan calon isteri waktu itu.
“jadi gimana menurut disitu,?” suara calon isteri saya di ujung telephone.
“pokoknya, untuk tamu harus dipisah,!” tegas saya
“oke lah kalau yang itu. Sudah clear, masalah hiburan mereka ingin ada dangdut,” sambung calon isteri saya
“atau begini saja, dari pagi sampai jam 8 malam hiburan harus nasyid. Diatas jam delapan silahkan dangdut,” calon isteri memberi solusi
“ya udahlah kalau gitu,” pungkas saya.

Itulah penawaran baru dari kami terkait hiburan di pesta pernikahan kami. Dan akhirnya memang mereka (keluarga besar istri) tidak mau tahu dan terasa cuek akan hal itu. Sebelum, saat dan setelah hari H keluarga besar istri yang tidak setuju dengan konsep pernikahan kami tidak membantu secara penuh dan keseluruhan. Mereka tetap diliputi rasa benci kepada saya, calon istri, dan mama.

Alhamdulilah, waktu pernikahan para tamu dipisah dan nasyid pun bergema dari pagi sampai jam delapan malam. Dan diatas jam delapan malam dangdut pun bersuara. Saya menyetujui dangdut bergema dengan catatan diatas jam delapan malam. Dan saya perkirakan pada saat jam segitu aliran tamu sudah mulai mereda. Mengapa saya ngotot atas hiburan pernikahan berupa dangdut dan sejenisnya?? Karena terus terang saya takut dosa. Biasanya ketika ada hiburan dangdut maka kemaksiatan yang lain akan terikut. Bisa mabuk mabukan, joget yang umbar aurat dan lain lain apalagi di kota besar seperti Medan. Seandainya hal itu terjadi di pernikahan kami, tentu yang mendapat dosa dua kali adalah saya selaku empunya hajat. Karena saya yang menyediakan tempat untuk itu. Syukurlah hal demikian tidak terjadi karena kami siasati dangdut diatas jam delapan. Dan terbukti tamu yang hadir diatas jam delapan sudah mulai sedikit. Kebanyakan para tamu meluber sebelum dan sesudah maghrib.

Setelah prosesi pernikahan selesai, hal pertama yang kami lakukan keesokan harinya adalah langsung silaturahmi ke keluarga besar istri yang menentang konsep pernikahan kami. Disitu pun kami meminta maaf dan sungkem. Alhamdulilah mereka sekarang sudah mulai cair dan kembali baik dengan mama sekeluarga.

“de de kita untuk menikah saja luar biasa susah dan beratnya,” itulah kata pertama saya kepada istri di malam pertama…….

NB: tulisan ini terkhusus buat istri, suatu hari dia protes kok tidak ada tulisan tentang saya sih mas!!
Ke depan saya akan perbanyak menulis tentang istri saya….i love you coz Allah SWT…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar