Gemmar Mengaji - Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji merupakan sebuah program yang diluncurkan di Istora Senayan oleh Menteri Agama RI Bapak Suryadharma Ali sejak tanggal 30 Maret 2011. Dengan mengambil enam provinsi sebagai percontohan (DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Banten dan DIY) Gemmar Mengaji didukung dengan melibatkan 800 ribu masjid/ musholla dan menggerakkan 95 ribu penyuluh (sebutan juru dakwah resmi dari Kemenag).
Semoga saja program tersebut berhasil. Sering saya bertanya tanya sendiri dengan perubahan budaya mengaji setelah sholat maghrib. Dulu waktu saya kecil, setiap hari sehabis sholat maghrib rame rame anak kecil seusia saya belajar mengaji. Berangkat ke mushola lima belas menit sebelum adzan dengan tidak lupa membawa mushaf. Ada yang sudah alquran, juz amma, model iqro atau istilah di brebes turutan.
Begitu selesai sholat maghrib, rame rame kami men-deres (belajar sendiri dulu sebelum membaca dengan guru). Suara kami bergantian dan bersahutan membaca huruf huruf hijaiyah tersebut. Disitu biasanya, kami sudah antri. Mengaji yang pertama sesuai urutan.
Sang guru pun mengajari kami dengan ikhlas dan tanpa bayaran. Sering kalau kami salah waktu membaca, biasanya sang guru mengetok meja, sebagai tanda ada bacaan yang salah. Dulu saya sempat takut mengaji lagi, karena macet dan takut salah salah waktu membaca. Begitupun, rupanya saya dijemput sama sang guru untuk segera ke mushola. Itu artinya tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa datang. Dan moment paling terindah dan menyenangkan kala sudah khatam. Baik naik kelas ke alqur’an maupun benar benar sudah khatam baca alqur’an. Sudah menjadi kebiasaan, bagi siapa yang khatam harus membuat nasi tumpeng. Dan disitu dibacakan doa doa agar dekat dengan alqur’an dan mendapat berkah.
Ngaji diatas Trem - pesbuk anak mudanya :-)
Jaman pun sudah berubah. Sekarang, sepertinya agak susah melihat anak anak kecil yang berbondong bondong belajar mengaji selepas sholat maghrib. Entah kenapa, anak sekarang lebih suka melihat layar kaca ketimbang membaca dan belajar alqur’an.
Dan seakan gayung bersambut, stasiun televisi pun “sengaja” dan berlomba lomba menaruh acara yang disukai anak anak (mulai film kartun sampai sinetron) tepat di saat waktu sholat maghrib. Bahkan sekarang ada stasiun televisi yang hanya menayangkan kumandang adzan maghrib pun tak mau.
Semoga dengan diluncurkan program Gemmar Mengaji ini masyarakat Indonesia kembali untuk melanjutkan kebiasaan dulu, yakni belajar dan membaca alqur’an selepas sholat maghrib. Dengan itu, semoga ketahanan keluarga memiliki benteng dan tameng yang kuat dari gempuran gempuran informasi dan budaya yang sudah mulai berubah seperti sekarang.
Kalau bukan kita yang melestarikan, lalu siapa lagi??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar