Sebenarnya ini cerita dan peristiwa sudah lama terjadi, tepatnya Senin (30/05/2011). Tetapi karena kemarin libur panjang karena cuti yang ‘dipaksakan’ saya tidak menuliskannya. Padahal dari hati yang paling dalam ingin sekali rasanya memposting tulisan tentang tokoh liberal satu ini sesegera mungkin ketika masih hot hot nya. Tapi biarpun tulisan ini sudah basi, yang penting ini menjadi saksi dan bukti bahwa saya salah satu yang sangat tidak setuju dengan pemikirin pemikiran liberal yang dimotori JIL dengan tokoh salah satunya Profesor satu ini.
Dialah Prof. Musdah Mulia, salah satu peraih nobel Internasional Women of Courage dari Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice di Washington pada 8 Maret 2007 lalu, dan ia mendapat hadiah Rp 6 miliar. Pada hari Senin (30/05/2011) beliau diundang menjadi salah satu narasumber dalam acara seminar yang diprakarsai oleh Human Ilumination. Tema yang diusung adalah “Adilkah Bangsa dan Agama Terhadapmu” yang digelar di Gedung Mulo, Jl Sungai Saddang, Makassar.
Ditengah acara ada peserta seminar (Umi Kaltsum) yang mengkritik pemikiran pemikiran liberal yang dilontarkan Prof. Musdah Mulia. Dia menganggap pemikiran liberal itu telah melecehkan hukum hukum Islam seperti pernikahan bukan ibadah, poligami haram, boleh menikah beda agama, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, ijab-kabul bukan rukun nikah, anak kecil bebas memilih agamanya sendiri, dan boleh kawin kontrak.
Sontak, Prof. Musdah Mulia geram dan kebakaran jenggot. Dengan nada setengah mengancam dan emosi Prof. Musdah Mulia pun menanggapi kritikan seorang mahasiswi dengan gelap mata.
“Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang,” Kata Musdah Mulia kepada seorang pengkritiknya, Umi Kaltsum.
=========
Melihat kejadian diatas, yang sudah banyak diberitakan di situs situs online sungguh sangat berbanding terbalik dengan konsep liberal yang dia usung. Ketika dia melabrak hukum hukum Islam dengan pemikiran pemikiran liberalnya, mereka berlindung dibalik kebebasan berpendapat yang dilindungi undang undang. Tetapi ketika pemikirannya itu dikritik oleh seorang mahasiswi..ya SEORANG MAHASISWA (yang seharusnya sama saja bahwa dia pun bebas berpendapat), dia yang sudah bergelar Profesor seakan menguliti dan menelanjangi ke-intelektual-annya. Bukan ‘kelas’nya seharusnya seorang Profesor berdebat dengan seorang mahasiswi, tapi nyatanya dia seakan kepanasan dengan kritikan.
Itulah tipe orang orang yang egois (menurut saya). Mereka sangat getol bukan saja mengkritik pendapat orang, tetapi mereka sangat antusias mengkritiki hukum hukum Islam yang sudah jelas. Tetapi ketika pada gilirannya mereka dikritik, langsung marah dan mengancam bahkan menjelek jelek sebuah media (sabili dan suara islam).
Tidakkah Anda sadar duhai Profesor?? Ketika kau dikritik saja ternyata kau marah, bahkan kau mengancam akan memenjarakannya. Sekarang kau begitu sering mengkritiki hukum hukum Islam dengan pemikiran liberalmu, tidakkah kau menyadari atau karena kau sudah buta dengan harta bahwa pada suatu saatnya nanti Dzat Yang Maha Kuasa Sang Pemilik hukum hukum Islam akan marah dan ancamanNya telah menantimu??
Ternyata perilakumu yang kau tontonkan di muka umum waktu itu tidak se-mulia namamu………
Capek degh,,,,
(sumber bacaan islamedia.web.id)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar