Terus terang kalau ingat kejadian ini saya akan tertawa sendiri. Ada
rasa malu disitu, tak jarang bangga pun kan muncul. Bahwa saya ternyata
bisa.
Waktu itu hari kamis. Pagi. Menjelang siang. Tiba tiba di seberang sana
Ustad Burhan menelepon saya. Tampak dari nada bicaranya ada rasa mengharap
disitu. Tapi ketika pertama kali menjawab teleponnya, ada rasa takut juga.
Jangan jangan ini hanya test-er dari ustad burhan saja.
“Akh, antum bisa kan gantikan ana jadi khotib, ada acara saya dan gak
bisa turun jadi khotib,” jelas ustad burhan mengawali pembicaraan di ujung telepon.
“Afwan stad, bisa gak yang lainnya. ana belum siap,” sergah saya secepat kilat.
“Bisa aja sih yang lain, tapi dah habis orangnya,” jawab ustad burhan menerangkan.
Disitu beliau menjelaskan sudah tidak ada lagi orang lain yang bisa
menggantikannya jadi khotib. Semua dah bertugas. Yang lain berhalangan. Cuma saya yang tersisa.
Lama saya dipaksa Ustad Burhan, dan beliau meyakinkan bahwa saya bisa menjadi khotib. Dengan berat hati saya jawab ya stad insya allah. Sebelumnya saya menanyakan
kepada beliau kebiasaan sebelum khotib naik mimbar. Perlu pakai sorban
gak. Ada sholat setelah adzan kedua gak. Ada podiumnya gak. Singkat cerita
di masjid itu menunaikan kebiasaan kebiasaan sholat jumat ala NU.
Berdetak jantung ini tidak seperti biasanya. Keluar keringat dingin dari badan.
Ah macem betul aja Ustad Burhan ini, batinku. Akhirnya dengan berat saya
pun mulai mencari bahan khotbah. Karena waktu persiapan sudah mepet, saya
pun memilih materi tentang al quran. Andalan. Materi kesukaan.
Kutulis dengan tangan sendiri di secarik kertas yang ku potong persegi.
Mulai dari doa sebelum khotbah sampai doa setelah khotbah. Semua ku tulis tangan
sendiri. Materi aman.
Mulai sibuk terkait pakaian koko. Yang mana yang pantas. Ku buka lemari. Dan terpilihlah koko warna kuning emas. Sarung sepadan. Kuning emas. Lobe putih sudah ada. Dan…sorban yang belum punya. Lama saya mencari di lemari. Tapi tidak ketemu.
Akhirnya saya pun paksakan ke pasar mencari sorban. Biar nampak ke-NU-an nya. Di pasar saya sampai keliling keluar masuk memutari pasar namun nihil. Tidak ketemu.
Akhirnya saya pun pulang. Belum dapat sorban.
Jumat pagi saya masih kepikiran. Sorban belum ada.
‘Dah mas pakai ini saja,” celetuk istri memberi solusi.
“kalau model lipat gini, tidak diselempangkan menyilang bagus. tidak kelihatan,” lanjut istri. Saya pun menurut. Diam. Dari pada tidak ada itupun jadi lah. Gumamku.
Akhirnya waktu berangkat ke masjid pun tiba. Sepanjang jalan saya baca doa. Entah apa saja yang kupanjatkan. Intinya agar acara khotbah perdana saya lancar.
Sampai masjid masih sepi. Orang masih sedikit di dalam masjid. Saya pun memulai
dengan sholat tahiyatul masjid. Terus terang sepanjang sholat sunnah ini jantung saya berdetak kencang. Sangat kencang.
Makin lama makin ramai jamaah yang datang. Nampak disitu pak ujang. Duduk satu shaff dengan saya. Pak ujang inilah yang kasih kode ke saya. Jika saatnya khotib naik, maka dia akan kasih kode ke saya. Telunjuk Pak Ujang pun diangkat tanda ke saya untuk segera naik mimbar. Mak jang…bismillah saya pun berdiri dan maju naik mimbar.
Hati masih kacau. Teringat cerita cerita seram sahabat tentang khotib. Ditolak. Tidak dipakai lagi. Karena tidak sesuai dengan kebiasaan masjid setempat. Saya makin tertekan. karena saya membawa judul dan nama baik. Pengganti Ustad Burhan, yang sudah terkenal di seantero pangkalan bun.
Ya allah, syukur saat itu posisi mimbar rapat. Tertutup. sehingga separo badan saya tidak kelihatan jamaah. Kaki saya pun bisa bebas goyang goyang agar tidak gemetar tubuh ini. Lima menit pertama yang kurasa seperti menelan paku. Dan menghadapi para monster. Menegangkan. Menyeramkan. Sekaligus menakutkan.
Lima menit kedua akhirnya lidah mulai rileks. Detak jantung perlahan kembali normal. Bahasa tubuh mulai memainkan perannya. Dan bla bla bla bla bla….. lancar selancar berjalan diatas jalan tol. Alhamdulilah khotbah saya tunaikan dengan sampai selesai. Tidak sampai terjadi kegelapan di kepala saya/pingsan. Syukur pula untuk imam ada sesepuh yang maju. Plong hati ini ketika menutup khotbah dengan membaca doa.
——–
Saya sengaja pulang agak lama. Ingin meminta masukan dari pak ujang terkait peran perdana saya. Sungguh, dalam hati saya hanya ingin minta masukan. Lain kali biar diperbaiki seandainya sekarang masih kurang. Alhamdulilah, masukan masukan pak ujang semua nya bagus.
“Mantap mantap akh,” tutup pak ujang mengakhiri pembicaraan waktu itu.
“Tapi tunggu dulu pak,” kata saya kepada pak ujang..
“Tahu gak kira kira kekurangan saya waktu khotib,” tanya saya ke beliau penuh selidik
“Ah gak ada, semua bagus,” jawab pak ujang menghibur.
“Antum salah. Coba perhatikan baik baik sorban saya,” ulas saya panjang lebar
“Kenapa,” tanya pak ujang penuh heran.
“Ini bukan sorban, melainkan jilbab putih keperakan punya istri saya yang dilipat menyerupai sorban,” jawab saya panjang lebar.
Dan,,”hahahahahahahahahahaha antum bisa aja,” kami berdua pun tertawa lepas……….
Heboh. Gempar. Dunia perkhotbahan di pangkalan bun langsung gempar. Ada khotib yang bersorbankan pakai jilbab istri. Sekarang kalau masalah khotbah, Banyak yang menyindir, tapi jangan kayak sairin ya. Pakai jilbab……
Ah ada ada saja….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar