Itulah sepenggal kalimat yang masih terngiang dan teringat betul dalam pikiranku. Kalimat itu terlontar dari guru mengaji saya waktu masih SMK di Brebes, Jawa Tengah yang kebetulan guru Bahasa Ingris saya, Bpk Ali Subekhi.
Waktu itu, saya yang baru lulus SMK mencoba mendaftar di STAN. Entah mengapa, pilihan saya jatuh pada Prodip I STAN. Waktu pengumuman saya senang bukan kepalang. Karena nama saya ada di papan pengumuman dengan keterangan lulus. Dan serta merta rasa senang saya karena lulus berubah total jadi bingung dan lemas. Ya…bingung dan lemas karena di papan pengumuman itu mencantumkan tempat pendidikan di Medan, Sumatera Utara.
Sepanjang perjalanan dari Bintaro ke Blok M saya merenung keras dan dalam hati bulat bulat saya putuskan tidak usah diambil kelulusan saya di Prodip, karena sangat jauh tempat pendidikannya. Medan.
Singkat cerita, sesampainya di rumah saya betemu dengan emak dan kakak kakak saya. Diceritakanlah semuanya. Bahwa saya lulus dan tempat pendidikannya di Medan.
“kalau kayak gini ceritanya, ya sudahlah mbak, saya tak jadi ambil kuliah di Prodip STAN, kataku mantap panjang lebar…
“ya sudah,”sergah kakakku. “kalau memang kamu tidak mau ambil kesempatan yang sudah di depan mata, silahkan. Tapi ingat, jangan sampai nanti minta uang sama kami kalau kamu mau kuliah lagi ditempat yang lain, lanjut kakak saya setengah mengancam.
“ah kalau gitu ya sudah lah aku berangkat ke medan, papar ku beralasan.
Hari pemberangkatan pun tiba. Ingat betul saya waktu itu ke terminal Tegal. Naik bus ALS tepat jam 15.30 Wib tanggal 14 Agustus 2002. Saya diantar oleh seluruh anggota keluarga. Tapi sebelum saya berangkat, sejenak menyempatkan diri pamitan sama guru ngaji saya. Bapak Ali Subekhi.
“ya sudah, kalau bapak dukung dukung saja, kata Pak Ali…
“ingat rin, sairin kan orang baik dan berusahalah terus jadi orang baik. Karena yakinlah. Kalau kita ini orang baik baik niscaya dimanapun kita berada insya allah akan bertemu dengan orang yang baik baik pula, terang Pak Ali panjang lebar.
Itulah kalimat yang sangat menyejukkan. Yang semakin menambah keberanian dan kemantapan hati saya merantau ke negeri seberang. Terus terang sebelumnya saya sangat takut pergi ke Medan. Apalagi sendirian saya pergi ditambah informasi yang menakutkan diterima saya. Orang batak galak galak lah. Kalau di jawa anjing makan tulang, kalau disana tulang makan anjing lah. Pokoknya informasi menakutkan tentang image orang batak banyak yang negative saya terima dibanding yang baik baik. Saya semakin takut karena disana tidak ada saudara kandung. Dan cuma berbekal alamat Gedung Keuangan Negara Medan Jalan Diponegoro No. 30A. Titik.
Tapi setelah mendengarkan nasihat itu hati ini pun makin mantap tuk melangkah, seraya berucap bismilahirrohmanirohiim…… dan akhirnya saya pun berangkat sendirian dari Tegal sampai Medan yang ditempuh dengan Bus selama 3 hari 2 malam. Dahsyat.
Alhamdulilah disepanjang perjalanan aman sentosa. Sesampainya di Terminal Amplas pun aman. Akhirnya saya sampai di gedung GKN Medan tepat jam 4 sore hari sabtu tanggal 17 Agustus 2002 dan masih bertemu dengan orang baik. Selama saya kuliah di Medan sampai akhirnya PNS di Medan alhamdulilah masih bertemu orang baik. Waktu di mutasi ke Palangkaraya dan Pangkalan Bun pun alhamdulilah bertemu dengan orang baik baik. Dan sekarang di Kisaran Sumatera Utara bertemu dengan orang baik.
Dalam hati saya bergumam, akan berusaha terus jadi orang baik sekuat tenaga. Niscaya kita kan selalu bertemu dengan orang yang baik baik pula. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar