MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA -)(- MENULIS ITU INDAH, MUSLIM YANG BAIK IALAH YANG SUKA MEMBACA DAN MENULISKANNYA

Rabu, 01 Juni 2011

Pentingnya Mengenalkan Bahasa Indonesia Kepada Anak

Sekarang ini saya ingin berbagi pengalaman setelah terdampar di Medan, tercampak ke Palangka Raya, dan terbuang ke Pangkalan Bun. Pengalaman tentang (ternyata) pentingnya pengenalan Bahasa Indonesia, dalam arti bisa bercakap cakap menggunakan Bahasa Indonesia (bahasa nasional kita). Saya pun terkadang bingung kenapa Bahasa Indonesia ketika di pelajari secara formal dan hasil ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia (banyak) yang mendapatkan nilai pas pas an (termasuk saya hehehe).


Pengalaman bahwa pentingnya pengenalan Bahasa Indonesia sejak dini, bermula dari ketika saya menuntut ilmu di Prodip I STAN Medan. Ya, terus terang waktu itu saya harus beradaptasi secara maksimal dan melakukan percepatan otodidak hanya untuk ngomong menggunakan Bahasa Indonesia. Untuk diketahui saya lahir di Brebes, Jawa Tengah. Dari orok sampai saya lulus sekolah di SMK sehari hari saya bicara dengan logat dan dialek Brebes (inyong inyong dsb).

Ketika saya dihadapkan kepada sebuah komunitas kelas yang terdiri dari berbagai suku (ada batak, padang, medan, sunda dan jawa sendiri) mau tidak mau bahasa komunikasi dan pergaulan menggunakan Bahasa Indonesia. Dan, lagi lagi saya belepotan berbicara Bahasa Indonesia (karena ya itu tadi dari kecil sampe SMK bahasa kesehariannya jawa, di sekolah menggunakan Bahasa Indonesia memang tapi intensitas tidak banyak alias sekedarnya).

Dari pertama kali saya berbicara di forum kelas, teman teman sudah langsung tahu dan segera ‘mengejek’ brebes brebes atau inyong inyong. Bahkan sempat ada yang menggoda kau ini kalau becakap kek macem air mendidih saja…blep blep blep gak jelas. Bagaimanapun kondisi ini menggangu dan sangat menyakitkan. Maka nya saat itu saya bertekad untuk bisa lancar berbahasa Indonesia dengan membiasakan ngomong bahasa Indonesia. Syukurlah ada teman yang asli Medan, mengajari saya cara ngomong dengan berbahasa Indonesia dengan logat kebatak batakan. Akhirnya, sekarang saya sudah mulai terbiasa dan sedikit lancar berbahasa Indonesia dengan logat kebatak batakan pula. Bahkan sering saya berbicara sama orang lain, ketika ditanya asal nya dari mana terus saya jawab dari Brebes dia tidak percaya. Karena dari logat dan intonasinya macem orang batak, muka nya juga mirip orang batak bang,…jiaaaaa!!!

Eitss kendala berbahasa Indonesia dengan lancar tidak dimonopoli saya yang aseli orang Brebes lho. Ternyata kendala komunikasi itu pun menghinggapi orang batak asli itu sendiri. Ada teman satu angkatan saya, dia asli dari Madina, Tapsel. Saya yakin sehari hari dari kecil sampai lulus SMA terbiasa dan sering ngomong dengan bahasa batak mandailing. Hasilnya, ketika di forum dan berusaha dengan keras berbicara bahasa Indonesia ternyata kepayahan juga dia. Lebih sering diseling o o o baru bahasa Indonesia terus o o ….hehehe,,,

Akhirnya saya pun diterbangkan demi bangsa dan negara terdampar lah di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ada teman satu kantor yang aseli orang sunda. Kebetulan waktu itu anak dan istri dibawa serta ke Pangkalan Bun. Suatu hari anaknya diajak bermain ke kantor. Anaknya ganteng dan nggemesin, dan selama di kantor digodain pegawai pegawai dengan berbahasa Indonesia dan ditanya basa basi khas pertanyaan ke anak kecil juga dengan berbahasa Indonesia. Hasilnya si anak terdiam seribu bahasa, tidak menimpalinya. Dari segi keluwesan anak ini cepat akrab, tetapi ketika diajak berkomunikasi dengan berbahasa Indonesia dia diam saja. Baru lah si Bapaknya mentranslate dengan bahasa sunda, akhirnya dijawab si anak dengan bahasa sunda dengan lancar. Si Bapaknya pun akhirnya memberitahukan bahwa anaknya agak susah ngomong dengan bahasa Indonesia, dia mungkin ngerti sih ngerti tapi mau menjawabnya agak kesusahan.

Dari pengalaman pengalaman itu saya pun mengambil kesimpulan bahwa ternyata pengenalan berbicara dengan berbahasa Indonesia sejak dini sangat penting. Menurut saya sangat penting, karena saya saja yang sudah besar ketika berjumpa aneka ragam suku perlu kurang lebih tiga bulan bisa lebih nyaman berkomunikasi. Dan ketika sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dan baik akan semakin membuat kita lebih semangat lagi. Dan yang terpenting tidak menjadi bahan olok olok an. Kebayang gak sih kalau masih kecil, kemudian gagap berbahasa Indonesia kemudian diejek teman temannya?? Saya yakin sedikit banyak akan mempengaruhi psikologisnya.

Dan seandainya, kita tinggal di luar negeri. Entah itu Arab, China, Jepang, Hongkong, Inggris terus kita tidak bisa/ gagap dengan bahasa nasional mereka tentunya akan menghambat profesi, karir dan prestasi kita (kalau saya sih bahasa nasional luar negeri tak ada yang bisa hehe). Tetapi bagaimanapun, selaku orang tua komunikasi di rumah dengan pembelajaran berbahasa Indonesia maupun daerah itu pilihan masing masing. Bahasa inilah menjadi salah satu kekayaan Indonesia, karena bahasa daerah itu banyak sekali ragamnya. Dan yang terpenting jangan sampai melupakan bahasa ibu kita (saya yang orang jawa jangan sampai dapat julukan jawa bonto, karena bahasa kromonya acakadut hehehe).

Bagaimana menurut Anda??

Salam Kompasiana,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar