Bagi Anda yang tidak punya dokter pribadi seperti saya, tentu jika sakit atau keluarga ada yang sakit akan kebingungan mencari dokter yang mana. Akan lain ceritanya jika memang kita sudah sering ke dokter yang sudah menjadi langganan dan dirasa cocok dengan kita, biasanya kita akan susah berpindah ke lain dokter.
Jangan percaya satu dokter, itu adalah ungkapan dari seorang dokter umum yang juga sahabat saya sewaktu di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ungkapan itu seakan membangunkan saya dari lamunan panjang dan pikiran yang bergelayut memberatkan kepala saya. Waktu itu ada dua kejadian, yang membuat saya pusing dan takut ketika anak saya sakit thypus dan malaria serta waktu kehamilan isteri saya yang kedua.
Seperti diketahui bahwa Pangkalan Bun, Kalteng merupakan salah satu daerah endemik malaria. Biasanya ketika terkena malaria maka tanpa permisi thypus pun datang. Waktu itu anak saya demam tinggi. Sering kami melakukan check darah segera untuk memastikan ada apa gerangan jika ada yang demam. Waktu itu hujan turun dengan deras, saya paksakan datang ke salah satu rumah sakit swasta. Sesampainya disana si kecil di periksa sama dokter jaga. Tak berapa lama dia menyarankan untuk segera di opname disini, biar segera di infus. Terus terang saya waktu itu hampir saja menurut begitu saja, tapi syukurlah isteri lebih tenang dan dia bilang ya bentar dulu dok kami diskusikan.
Isteri pun mengajak saya keluar menuju teras rumah sakit itu. Dia jelaskan bahwasannya tidak setuju untuk diopname. Sederhana pertimbangan dia.
“mas ini rumah sakit swasta, kalau opname disini pasti mahal. Ini dah tanggal tua lho,” kata isteri
“terus gimana de,?” tanya saya kebingungan.
Singkat cerita, sang isteri menelpon isteri dokter umum sahabat saya yang dia juga seorang dokter umum. Dah coba bawa kesini, suara isteri dokter umum itu di ujung telepon. Kami pun langsung meluncur ke Apotik tempat dia praktek. Dan dari hasil diagnosanya, dia tidak menyarankan untuk di opanme. Dirawat di rumah pun tak apa yang penting kasih obat ini, ujar dia sambil menjulurkan resep. Alhamdulilah setelah dirawat beberapa hari dengan diberi obat dari dokter umum tersebut si kecil sembuh.
Waktu isteri saya hamil yang kedua, kami periksakan segera ke dokter spesialis kandungan di Pangkalan Bun. Sering kami segera USG untuk minta pendapat rahim dan janin nya dalam kondisi sehat dan kuat tidak. Habis maghrib kami pun ke tempat dokter spesialis kandungan itu. Selesai memeriksa si jabang bayi, kami pun berdiskusi panjang lebar dengan sang dokter.
Seperti disambar petir di siang hari, ternyata dari hasil pemeriksaan sang dokter isteri di vonis hamil di luar kandungan. Isteri terlihat shock, mau menangis tapi ditahankan. Malu ada dokter. Saya yang duduk disamping istri pun diam seribu bahasa. Disitu kami seakan didoktrin bahwa diagnosa dokter betul 100%. Terus terang saya kalut luar biasa, mau mencurahkan kepada siapa kami pun bingung. Maklum saya dan isteri di Pangkalan Bun tanpa saudara kandung disamping. Isteri semua keluarganya di Medan sementara saya keluarga di Brebes.
Sepanjang perjalanan kami berdua diam tak berbicara. Masing masing memikirkan apa yang akan terjadi dan bingung. Sangat sangat bingung. Setibanya di rumah tangisan isteri pun pecah. Saya peluk peluk erat dia sambil menghibur serta memberikan nasihat sebisa saya. Terus terang saya berpikiran kotor atas vonis dokter itu. Kematian menggelayuti pikiran saya. Sementara isteri saya merasa bersalah dan takut kepada saya, karena ternyata dalam benak dia harus di operasi. Dan tentunya biaya yang akan dikeluarkan sangat mahal.
Atas vonis itu, saya dan isteri berdoa terus tanpa jeda. Setiap dalam kesempatan. Berdoa dan berdoa.
“sudah de, jangan dipikirin kali lah. Semoga vonis dokter itu salah,” hibur saya suatu saat kepada isteri.
Seakan tidak puas dengan vonis dokter, saya mengajak isteri untuk diperiksakan saja dulu ke bidan. Dan ternyata bidan itu pun bilang tidak ada hamil di luar kandungan. Kami pun bingung dicampur bahagia. Selang beberapa minggu kemudian, kami kembali lagi ke dokter kandungan itu. Kami harus kembali lagi seperti yang dia pesankan sebelum nya. Lucu, bahagia plus bingung. Itulah perasaan kami, ketika hasil pemeriksaan sang dokter ternyata normal saja kehamilannya. Ternyata itu bukan hamil diluar kandungan tapi lemak dari perut istri.
“alhamdulilah,” kompak kami berucap sambil berpelukan.
Atas dua peristiwa itu, semoga smakin meneguhkan dan menenangkan saya atas vonis maupun saran dokter yang mengagetkan saya. Terus terang, ketika kita sakit atau anggota keluarga kita sakit ketika dokter bilang a biasanya kita akan menuruti begitu saja. Padahal bisa saja kita bilang nanti dulu sambil mencari dokter lain sebagai second opinion.
Akhirnya, segeralah mencari dokter dokter yang lain dulu. Jangan langsung percaya kepada satu dokter saja. Mencari dokter yang lain kita jadikan second opinion. Semakin banyak hasil dan diagnosa dokter tentu akan memudahkan kita untuk memutuskan langkah selanjutnya. Ingat, kita ini pasien yang juga konsumen. Konsumen juga Pembeli dan Pembeli adalah raja. Segala keputusan selanjutnya MUTLAK ADA DITANGAN KITA. Hak kita untuk menyetujui atau menolak diagnosa dokter, bukan dokter.
Salam Maaf buat kompasianer yang berprofesi dokter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar